AKTUALISASI KONSEP TRI MURTI DALAM KEHIDUPAN NYATA

Oleh: I Wayan Suastika, Bogor

Tiidak ada seorangpun diantara kita yang dapat membantah bahwa kehidupan di dunia ini memang sangat dinamis.. Perubahan terjadi dengan sangat cepat. Dengan kemajuan teknologi (komunikasi), jarak bukan lagi merupakan halangan bagi siapapun di belahan bumi ini untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lain. Kegagalan sepertinya sudah menghadang di depan mata bila seseorang tidak mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi.

Dengan rumus yang sama perikehidupan dalam beragama Hindu juga mengalami pergeseran atau penyesuaian terus menerus, suatu  “reaktualisasi diri”  dalam menyikapi perubahan yang telah, sedang dan akan terjadi. Pertanyaannya adalah, bagaimana umat Hindu menyikapi perubahan yang terjadi agar tetap bisa eksis dalam kondisi dunia yang begitu dinamis. Tentu saja bagi umat Hindu acuannya adalah kitab suci Weda yang kesucian dan kebenarannya tidak diragukan lagi.  Tuntaskah masalahnya ?, tentu saja belum karena pertanyaan berikut ini muncul, yaitu “bagaimana umat Hindu menterjemahkan isi kitab suci Weda agar mudah dipahami dan bersifat operasional, dapat menjawab tantangan zaman yang ada ?”. Untuk menjawab ini semua, pemahaman tentang konsep Tri Murti  dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari kayaknya dapat memberikan salah satu contoh model reaktualisasi nilai-nilai agama ke bentuk yang operasional.  Menurut Weda Tri Murti berarti tiga aspek perwujudan ke-Mahakuasaan Ida Sang Yang Widhi Wasa dalam hal Penciptaan (Brahma), Pemeliharaan (Wisnu), dan Peleburan (Siwa). Dengan segala “sakti-Nya” Tuhan telah menciptakan alam semesta ini beserta segala isinya. Begitu juga dengan segala “kemahakuasaan-Nya” Beliau memelihara apa yang ada di dunia, dan nanti pada suatu saat – kalau sudah waktunya – dunia ini akan “dipralina” oleh kekuatan Tuhan dalam wujud Siwa. Adakah relevansi pemahaman konsep Tri Murti di atas dengan kehidupan nyata yang kita hadapi sekarang ?. Tentu saja jawabannya, ada !.

Pertama; pengertian “menciptakan”  dapat diartikan bahwa penciptaan itu merupakan buah dari kreatifitas. Dengan kata lain, “sesuatu”  itu baru ada atau “tercipta” kalau yang menciptakan mempunyai kreatifitas yang tinggi. Jadi umat Hindu diharapkan dapat menjadi “manusia” yang penuh dengan daya kreatifitas, tidak pasif, tidak nrimo, untuk dapat berhadapan dengan kehidupan di dunia ini yang begitu dinamis, dan tidak jarang “ganas”. Kalau tidak ingin ketinggalan jauh, maka tidak ada pilihan lain bagi umat Hindu, selain harus senantiasa siap menghadapi perubahan yang terjadi, dengan selalu melahirkan inovasi-inovasi baru dalam berbagai aspek kehidupan. Umat Hindu tidak boleh menyerah menghadapi situasi yang sesulit apapun. Segala daya dan upaya harus dikerahkan untuk meraih kemajuan, baik dunia maupun akhirat (Moksartham jagadita ya ca iti dharma).

Kedua, aspek “Pemeliharaan”. Kemampuan untuk memelihara atau merawat “sesuatu”  yang sudah ada merupakan syarat mutlak agar apa yang sudah diciptakan dapat dimanfaatkan dengan baik dalam jangka waktu lama. Umat Hindu “diperintahkan” untuk dapat memelihara sesuatu yang telah dimilikinya. Jadi kemampuan  untuk memelihara atau merawat yang sudah ada perlu dipupuk agar barang yang sudah ada menjadi lestari. Untuk dapat mendukung kehidupan yang ada di atasnya, maka alam ini harus dijaga kelestariannya. Kegagalan dalam memelihara alam, maka bencanalah akibatnya. Banjir dimusim hujan atau kekeringan dimusim kemarau. Begitu juga untuk memelihara badan fisik ini diperlukan makanan yang bergizi, olah raga dan istirahat yang cukup, dan yang lain-lainnya, sedangkan untuk memelihara kesehatan jiwa dapat diupayakan dengan melakukan persembahyangan, berbuat baik kepada orang lain, japa mantra dan kegiatan yang lainnya. Pendek kata keterampilan dalam memelihara sesuatu yang sudah ada perlu dan harus dipupuk dan diupayakan terus menerus tanpa mengenal lelah.

Ketiga dan yang terakhir adalah “Peleburan”.  Secara harfiah peleburan dapat diartikan “menghilangkan sesuatu yang sudah ada” atau “merubah yang sudah ada menjadi tidak ada atau menjadi bentuk lain”. Begitulah hukum alam, sehebat apapun kemampuan kita untuk memelihara atau merawat sesuatu, karena sudah “kehendak Beliau”, maka segalanya bisa hilang atau lebur dalam waktu sekejap. Karena itu menyikapi sesuatu yang harus dan pasti terjadi, maka “pasrah” adalah jawabannya. Kalau memang itu sudah harus terjadi, ihklaskanlah. Baju yang “diciptakan di pabrik’ dengan apiknya, kemudian “dipelihara” dengan baik, pada suatu saat akan “robek atau usang” juga,  oleh karena itu jalan yang terbaik adalah “dibuang saja”.  Secara tersirat makna peleburan di sini menjadi sangat luas. Ketidakterikatan salah satunya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini bersifat sementara – begitu kata kitab suci.  Oleh karena itu keterikatan terhadap alam beserta segala isinya merupakan “pengingkaran” terhadap hukum alam. Om santi santi santi om.