Di dalam agama Hindu dikenal adanya berbagai usaha atau media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu dari usaha atau media itu adalah melalui pelaksanaan hari-hari raya keagamaan. Di antara demikian banyak hari-hari raya Hindu, satu di antaranya adalah hari untuk memuja keagungan Tuhan Yang Maha Esa melalui pemeliharaan atas ciptaan-Nya berupa binatang ternak atau peliharaan. Umat Hindu di Bali menyebut hari itu adalah hari Tumpek Kandang atau Hari Tumpek Uye, yakni jatuh pada setiap hari Sabtu Kliwon Wuku Uye menurut perhitungan kalender Bali-Jawa. Hari ini datang setiap enam bulan (210 hari) sekali. Pada hari ini umat Hindu membuat upacara memuja keagunganSelengkapnya. . .

Pada hari Buda Kliwon Sinta  umat Hindu di Bali merayakan hari Pagerwesi. Hari ini adalah hari terakhir dari rangkaian 10 hari perayaan Saraswati yang dimulai pada Senin, Umanis Watugunung yang juga disebut hari candung Watang. Setelah melalui babakan perayaan tertentu untuk masing-masing hari, akhirnya tibalah pada perayaan Pagerwesi, setelah sebelumnya pada wuku Sinta ini berlangsung perayaan Banyu Pinaruh pada Minggu, Paing, Sinta, kemudian perayaan Soma Ribek pada Senin, Pon Sinta, dan Sabuh Mas pada Selasa, Wage, Sinta. Jika ditelaah dengan seksama, maka 10 hari ini yang berakhir pada Pagerwesi merupakan rangkaian sadhana spiritual khas Bali. Masing-masing hari dari 10 hari tersebut memuat aturan-aturan tertentu yangSelengkapnya. . .

Seberapa kuat seharusnya kita agar bisa menemukan Kebenaran Sejati. Kita harus sangat kuat. Bagaimana kita menjadi kuat? Dengan latihan. Kita harus melatih jiwa kita dengan mematuhi aturan-aturan sadhana yang ada di dalam Weda atau yang diberikan oleh guru sadhana yang kita yakini telah mencapai pencerahan batin. Pada awalnya, semua aturan sadhana yang diberikan akan terasa sangat sulit. Jiwa yang lemah sangat sulit membuatnya menjadi kuat, tetapi jika kita melatihnya sepanjang waktu dan melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, akan nampak hasilnya. Jiwa kita akan merespon juga. Tetapi kita harus melaksanakan sadhana itu. Kita harus berusaha. Kita harus berusaha dengan sangat keras, melatih jiwa kita yangSelengkapnya. . .

Komitmen kebangsaan umat beragama menemukan momentumnya kembali pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, setelah beberapa waktu terakhir menguat intoleransi. Umat Hindu di sekitar Kota Bogor bersama umat beragama lainnya melaksanakan doa bersama, sujud syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa di Korem Suryakencana Jl. Merdeka 64 Bogor pada tanggal 17 Agustus 2017. Undangan dengan tagline 171717 cukup menarik dan direspon positive segenap pihak yang diundang acara ini, berharap bahwa rajutan tali kasih semakin kuat antar anak bangsa.Selengkapnya. . .

Gamelan kita ketahui bukan hanya menjadi domain laki-laki, para remaja putri pun memiliki hak untuk tahu. Juga bukan hanya menjadi “mainan” para orang tua, anak-anak dan remajapun baik untuk melatih salah satu keseimbangan, selain sebuah aksi luhur melestarikan budaya. Banjar Bogor yang dimotori oleh Bapak Koming Kutha Ardana dan penggiat seni lainya sangat konsen dan merelakan waktunya “ngayah” atau berkarma bhakti melalui seni.Selengkapnya. . .

Salah satunya adalah Ketut Guna Artha. Bahkan, mantan Sekjen DPN Perada ini sudah berada disana sejak Kamis (16/9) malam kemarin. “Saya di pura Gunung Salak sejak Kamis malam kemarin, karena di sini ada pujawali yang jatuh pada purnama ketiga atau Jumat (16/9). Ini upacara agama setiap tahun sekali. Saya pribadi kesini untuk sembahyang,” ujar Guna Artha saat NusaBali hubungi, Jumat (16/9). Guna Artha mengatakan, pujawali adalah peringatan atau perayaan untuk memuja Tuhan yang berstana di pura. Pura Gunung Salak, lanjut Guna Artha, terletak di lereng utara Gunung Salak. Persisnya di desa Tamansari, kecamatan Tamansari, pemekaran dari Ciapus, Bogor. Pura ini merupakan kahyangan jagat atau puraSelengkapnya. . .