DANA PUNIA KEMANUSIAAN

Oleh: Ketut Adiana

05 Oktober 2018

 

Waktu bersekolah di sekolah dasar saya diajari bahwa Indonesia terletak pada posisi yang strategis. Strategis karena terletak didaerah khatulistiwa, diapit oleh dua benua dan diapit oleh dua samudra. Tanahnya subur dan penduduknya ramah. Tentu hal ini tidak salah.

Saat ini kita tahu bahwa posisi Indonesia juga merupakan pertemuan empat lempengan yaitu lempeng benua Australia, lempeng benua Asia, lempeng Samudra Hindia dan lempeng Samudra Pasific. Indonesia juga memiliki 10 % dari gunung berapi yang ada di dunia. Hal-hal ini menyebabkan Indonesia dikatakan terletak pada daerah Cincin api – Ring of Fire.

Karena terletak pada daerah Cincin api, maka Indonesia juga rentan terhadap bencana. Baik bencana gempa, letusan gunung berapi, banjir dan tanah longsor. Belakangan kita juga mendengar ada bencana likuifaksi, dimana akibat getaran, daratan menjadi berlumpur dan amblas kebawah. Semua bencana ini akan menyebabkan bencana kemanusiaan, berupa orang-orang meninggal, luka berat, luka ringan, kelaparan, kehilangan tempat tinggal,trauma psikologis, hancurnya infrastruktur  dan sebagainya. Dan, tentu memerlukan bantuan.

Salah satu bentuk bantuan yang dapat diberikan adalah bantuan Dana Kemanusiaan, yang kalau diberikan secara tulus ikhlas kita sebut Dana-punia Kemanusiaan.

Sebuah mantram dalam Atharvaveda (3.24.5) menyampaikan :

Wahai manusia, kumpulkanlah kekayaan dengan  seratus tangan dan sumbangkanlah kekayaan tersebut dengan seribu tangan, dapatkanlah hasil yang penuh dari pekerjaan dan keahlianmu didunia.

Mantram diatas memberikan petunjuk kepada kita bahwa kekayaan dicari dengan kerja keras dan tentu berdasarkan norma-norma dan kaidah-kaidah yang berlaku. Atau berdasarkan dharma. Selanjutnya mantram tersebut mendorong kita untuk melakukan atau memberikan bantuan kepada yang memerlukan dengan hati yang tulus.

Tujuan atau penggunaan kekayaan dapat dibagi tiga yaitu dana, bhoga dan nasa. Kekayaan yang dinikmati sesuai kebutuhan disebut bhoga. Kekayaan yang melebihi kebutuhan dan disumbangkan atau didermakan disebut dana. Jika seseorang tidak menikmati sendiri kekayaannya dan juga tidak didermakan kepada orang yang membutuhkan maka kekayaan tersebut akan menjadi nasa yang dapat membinasakannya. (Ref. 108 Mutiara Veda – Untuk Kehidupan Sehari-hari, Dr. Somvir, Paramita Surabaya, 2001).

Penyampaian Dana punia Kemanusiaan ini disamping harus disampaikan dengan dasar hati yang tulus juga tidak boleh membeda-bedakan kepada siapa batuan itu diberikan. Tidak perlu ada kotak-kotak atau sekat-sekat. Sekat-sekat suku, golongan, ras, bangsa tidak perlu lagi ada.

Kita mengenal  ungkapan Vasudewa Kutumbhakam – kita semua bersaudara. Pentingnya arti persaudaraan karena kita semua berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam suatu bencana besar disebuah negara, maka negara-negara lain juga ikut membantu dalam penanggulangan bencana tersebut. Jadi tidak ada lagi sekat-sekat bangsa dalam hal ini. Ini juga sesuai dengan semboyan One Sky, One Earth, One Humankind.

Sudah barang tentu Dana punia Kemanusiaan ini tidak hanya dilakukan pada saat ada bencana. Dalam kehidupan keseharianpun pada dasarnya wajib dilakukan. Menolong orang yang kurang mampu, menolong orang yang mengalami penderitaan dan sebagainya. Bahkan secara bersama-sama dapat mendirikan rumah sakit non komersial, membangun panti asuhan dan sebagainya.

Berbahagialah orang-orang yang bisa membantu sesamanya dengan tulus ikhlas, tanpa mengharapkan penghargaan, tanpa mengharapkan pujian. Niat membantu yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Bahkan kadang dengan menempuh resiko. Berbahagialah orang-orang yang menempuh jalan Bhakti ini. Astungkara.