MULAILAH MEMBACA KITAB SUCI UNTUK YANG BELUM MULAI: Bagian-1

Oleh: Wayan Gemuh Kertaraharja

 

Om Swastyastu

 

Om saha nāvavatu

Saha nau bhunaktu

Saha vīryam karavāvahai

Tejasvi nāvadhītamastu

Mā vidviṣāvahai

 

Selingan berupa tulisan pendek saya kali ini berkaitan dengan suasana rahina Saraswati. Saya mengangkat topik kitab suci, sesuai dengan apa yang saya pahami, yang merupakan catatan saya yang telah saya lengkapi dengan pencerahan dari Prabhu Darmayasa pada saat melaksanakan tirtayatra bersama beliau. Saya mengucapkan terima kasih kepada beliau dan para acharya dari Chinmaya Mission, yang pendapat dan pencerahannya saya pakai dalam tulisan pendek ringan ini.

 

Selingan ini terdiri dari 3 selingan bersambung. Bagian pertama sekilas mengenai kitab suci, bagian kedua mengenai kitab suci yang mana saja yang perlu dibaca dan kapan harus mulai membacanya, bagian ketiga mengenai kenapa ajaran kitab suci harus dipraktekkan dalam kehidupan sehar-hari dan apa manfaatnya.

 

  1. Science dan Spiritual

 

Dalam kesempatan yang diberikan oleh Ida Hyang Widi Wasa kepada saya bersama keluarga mengunjungi British Museum akhir tahun lalu, ada satu galeri dalam musium itu yang membuat saya tertarik untuk tidak melewatkannya, yaitu galeri yang berupa sebuah ruangan yang sangat besar, yang dinamai sebagai Enlightenment Gallery, atau galeri pencerahan. Saya tertarik untuk mengetahui kira-kira apa yang dipamerkan dalam galeri tersebut.

 

Setelah kami masuk ke ruangan galeri tersebut, kami dapatkan setengah bagian ruangan galeri tersebut (katakanlah bagian kanan) berisi benda-benda maupun instrument-instrument atau peralatan-peralatan maupun buku-buku dan hukum-hukum yang lebih kurang merepresentasikan sebagian jejak penemuan di bidang sicence, termasuk di bidang matematika, fisika, kimia, geologi, astronomi, dan lain-lainnya.

 

Sedangkan pada setengah bagian sisanya lagi (katakanlah bagian kiri ruangan) dipajang benda-benda maupun miniature yang menggambarkan peradaban mausia di bidang keagamaan dan spiritual atau sejenisnya, yang pernah ada di bumi ini termasuk agama Hindu dan agama/kepercayaan lainnya.

 

Yang menarik buat saya, negara yang sudah cukup maju dan merupakan salah satu negara penghasil ilmuwan, memandang bahwa enlightenment atau pencerahan yang lengkap itu tidak cukup hanya diperoleh dari ilmu pengetahuan tentang alam fisik yang ada di luar diri kita ini yang kita kenal dengan science, tetapi juga harus dilengkapi dengan pencerahan mengenai yang ada dalam diri kita yang lebih dikenal dengan bidang spiritual.

 

Ilmu pengetahuan ke luar diri yang orang Bali mengenalnya dengan sebutan alam-skala yaitu alam fisik ini, harus dilengkapi dengan ilmu pengetahuan ke dalam diri atau alam-nis, alam spirit, yaitu pengetahuan mengenai siapa diri kita yang sejati, apa hubungannya dengan mahluk hidup yang lainnya dan hubungannya dengan Tuhan, serta apa tujuan dari kita hidup di dunia ini. Dalam agama kita, ilmu pengetahuan ke dalam diri ini disebut sebagai jnana.

 

Bila kita hanya melek mengenai alam fisik, tetapi masih buta dengan spiritual, buta dengan siapa diri kita yang sebenarnya, tidak tahu apa sesungguhnya tujuan kita hidup di dunia ini, Prabhu Darmayasa dalam pencerahan yang beliau berikan kepada peserta tirtayatra di Jyotisar saat membaca bersama sloka Bhagavad-Gita, mengatakan keadaan seperti itu sebagai buta-kedat, alias melek tapi buta. Istilah yang dipakai Prabhuji masih sopan menurut saya dibandingkan istilah yang dipakai oleh salah seorang acharya yang mengatakan sebagai keadaan educated-ignorant.

 

Lebih lanjut Prabhuji mengatakan bahwa orang yang buta-kedat itu hanya mau membuka kedua matanya untuk melihat alam fisik ini. Bahkan dalam kondisi tidur pun kita berusaha atau senang melihat alam fisik ini melalui mimpi. Sebaliknya, orang buta-kedat tidak mau menutup mata fisiknya dan membuka mata bathinnya untuk melihat ke dalam diri, untuk menemukan dirinya yang sejati.

 

Banyak orang yang buta-kedat tidak mengetahui dirinya buta. Namun sayangnya, banyak juga orang yang mengetahui dirinya buta-kedat tapi tidak mau bertanya arah atau jalan untuk menemukan dirinya yang sejati, atau tidak tahu kemana harus mencari petunjuk. Jaman now, sudah banyak applikasi di handphone seperti waze ataupun google map ataupun gps sebagai penuntun arah ke tujuan. Tapi apa yang menjadi penuntun arah, yang menjadi gps, kalau kita ingin menemukan diri sendiri?

 

Menurut saya, jawabannya adalah kitab suci. Namun, kitab suci yang mana yang harus kita baca terutama untuk kita manusia jaman Kali Yuga ini?

 

  1. Hindu Memiliki Banyak Kitab Suci

 

Seorang acarya Hindu di India ditanya oleh rekannya dari agama lain mengenai apa kitab suci agama Hindu. Acarya tersebut tidak memberi jawaban langsung, namun dia mengajak rekannya itu ke perpustakaan pribadinya, untuk menunjukkan kepada rekannya itu kitab suci agama Hindu. Sampai di perpustakaan, rekannya itu tertegun melihat banyak sekali buku. Sang acarya mengatakan bahwa semua buku yang ada di perpustakaannya itu adalah kitab suci Hindu.

 

Berbeda dengan beberapa agama lain yang masing-masing memiliki hanya 1 kitab, agama Hindu memiliki banyak sekali kitab yang semuanya merupakan bagian dari Veda. Kitab Veda banyak jenisnya, karena kitab Veda sangat komplit, kitab yang tidak hanya berisi pengetahuan ataupun aturan berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga kitab yang berisi pengetahuan mengenai kehidupan itu sendiri, yang mencakup berbagai bidang termasuk astronomi, sosial, kepemimpinan, pertanian, penyakit dan pengobatannya, politik, ritual, dan sebagainya.

 

Kitab Veda dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu Sruti (yang diwahyukan langsung oleh Tuhan, yang kebenarannya bersifat kekal) dan Smrti (yang isinya pedoman pelaksanaan dari Sruti, yang disesuaikan dengan perkembangan jaman). Tetapi masing-masing kelompok itu ada bagiannya lagi yaitu kitab Yajur, Rig, Sama, dan Atharva. Kemudian pengelompokkan tersebut dikelompokkan lagi ke dalam kitab Samhita, Aranyaka, Brahmana, dan Upanishad. Untuk membantu memudahkan memahami Veda, ada kitab-kitab pelengkap (supplement) yaitu di antaranya adalah kitab Purana dan Itihasa.

 

Betapa banyaknya kitab yang harus dibaca oleh orang Hindu. Sementara itu, manusia di jaman Kali Yuga ini sangat disibukkan dengan kehidupan yang keras dan memiliki waktu serta kemampuan yang terbatas untuk membaca dan memahami dengan benar seluruh kitab suci Veda tersebut.

 

Lalu, adakah kitab yang berisi intisari dari ajaran Veda untuk manusia di jaman Kali Yuga ini?

 

Jawabannya akan kita bahas di bagian-2 dari tulisan bersambung ini. Saya tutup bagian-1 ini, semoga ada manfaatnya untuk kita semua. Bilamana ada hal-hal yang keliru ataupun kurang tepat dari selingan saya ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

 

Om Shanti Shanti Shanti Om.

 

Bogor, 13 Oktober 2018