MULAILAH MEMBACA KITAB SUCI UNTUK YANG BELUM MULAI: Bagian-2

Oleh: Wayan Gemuh Kertaraharja

 

Om Swastyastu,

 

Di bagian pertamadari tulisan bersambung ini, setelah kita mengetahui bahwa Hindu memiliki banyak kitab suci, saya menutupnya dengan pertanyaan: “adakah kitab yang berisi intisari dari ajaran Veda untuk manusia di jaman Kali Yuga ini?”. Di bagian-2 ini, kita mulai selingannya dengan dari mana kita menutup selingan pertama. Karena 3 tulisan ini merupakan tulisan yang berkesinambungan.

 

Demikian pula hidup ini, suatu proses yang berkelanjutan. Lahir-hidup-mati-lahir-hidup-mati dan seterusnya. Yang kita bawa berkelanjutan dari kehidupan saat ini ke kehidupan berikutnya hanyalah kesucian jiwa. Yang lainnya kita tinggalkan. Kita memulai kehidupan berikutnya, dengan tingkat kesucian jiwa yang sama dengan tingkat kesucian jiwa pada saat kita mengakhiri hidup yang sekarang ini. Kita wajib maju terus dari kehidupan ke kehidupan berikutnya, jangan pernah berhenti, apalagi mundur.

 

Kita kembali pada pertanyaan apakah ada kitab yang memuat intisari dari Veda.

 

  1. Bhagavad-Gita – Intisari Kitab Suci Hindu

 

Di suatu saat di awal jaman Kali Yuga, sekelompok rsi berkumpul di tempat suci di hutan Naimiṣāraṇya di India, untuk melakukan ritual persembahan kepada para Dewa, untuk memohon keselamatan manusia karena Kali Yuga sudah mulai. Di dalam kelompok para rsi tersebut ada Rsi Sūta Gosvāmī yang memiliki pengetahuan sangat luas.

 

Di suatu pagi setelah seleai melakukan upacara persembahan, para rsi ini mempersilahkan Rsi Sūta Gosvāmī untuk menempati tempat duduknya. Kemudian para rsi ini berkata kepada Rsi Sūta Gosvāmī:

 

“Wahai Rsi, ada begitu banyak kitab suci dengan berbagai kewajiban / tugas / ritual yang diajarkan di dalamnya yang harus dipelajari. Oleh karena itu, oh Rsi, demi kebaikan umat manusia, ajarilah kami, katakan pada kami, intisari dari semua ajaran itu, dengan hal mana umat manusia memperoleh kebahagiaan sepenuhnya.(Śrīmad-Bhāgavatam,  SB:1.1.11)

 

Atas permintaan para rsi tersebut, kemudian Rsi Sūta Gosvāmī menceritakan ringkasan dari kehidupan semua avatara Visnu termasuk kehidupan Sri Krishna, di mana ringkasan tersebut kemudian dikenal dengan kitab Bhagavata Puran atau Srimad-Bhagavatam, yang terdiri tidak kurang dari 18.000 sloka. Jaman dulu, para rsi dengan gampang mengingat dan menghafalkan 18.000 atau lebih sloka. Bahkan sebelum jaman Kali Yuga dimulai, ajaran Veda diajarkan ke orang lain, dari generasi ke generasi, tanpa buku.

 

Siapa dari kita yang sanggup membaca, memahami dan menghafalkan 18.000 sloka? Mungkin tidak banyak manusia di jaman Kali Yuga ini yang mampu. Lalu adakah kitab intisari yang lebih ringkas, yang jumlah slokanya kurang dari 18.000, untuk manusia di jaman Kali Yuga ini?

 

Tentu saja ada. Kepada orang-orang di jaman Kali Yuga yang berniat untuk meningkatkan pengetahuan spiritualnya, yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan, Tuhan telah menganugrahkan apa yang orang-orang itu butuhkan, yaitu Bhagavad-Gita.

 

Bhagavad-Gita, di samping jumlah slokanya jauh lebih kecil dari jumlah sloka Srimad-Bhagavatam, yaitu hanya 700 sloka, Bhagavad-Gita juga masuk ke dalam katagori kitab suci sangat komplit, karena Bhagavad-Gita tergolong kitab Sruti, Smrti, Upanishad, Itihasa, dan Purana.

 

Sebagai kitab Sruti, Bhagavad-Gita diwahyukan langsung oleh Tuhan dalam wujud Beliau sebagai avatara (Sri Krishna), berisi ajaran yang bersifat kekal, berlaku sejak alam ini ada sampai dengan alam ini tiada nanti. Sebagai kitab Smrti, Bhagavad-Gita bukan hanya berisi filosofi tetapi juga berisi panduan praktis pelaksanaan Sruti sesuai dengan perkembangan jaman. Sebagai kitab Upanishad, Bhagavad-Gita berisi philosofi tentang atma dan paramatma, yang diajarkan langsung oleh Sang Guru (Sri Krishna) kepada sang murid (Arjuna).

 

Adapun sebagai kitab Itihasa, kejadian Sri Krishna mengajarkan ajaran Bhagavad-Gita ini, yang merupakan bagian dari Maha Bharata, adalah kejadian nyata, pernah terjadi, bukan cerita dongeng. Sedangkan sebagai kitab Purana terutama Bhagavata Purana dan Visnu Purana, Bhagavad-Gita merupakan kitab tentang sebagian kecil kehidupan avatara Visnu yaitu Sri Krishna.

 

Jadi, di jaman Kali Yuga ini, sebagai masyarakat umum, kita cukup mulai dengan membaca Bhagavad-Gita saja. Kalau kemudian ada yang juga membaca kitab-kitab lainnya, tentunya itu lebih dari cukup.

 

  1. Bhgavad-Gita Sebaiknya Dibaca Sejak Dini

4.1. Usia anak-anak adalah usia pembentukan karakter

 

Sejak usia berapa kita harus mulai membaca kitab Bhagavad-Gita? Tentu saja sebaiknya sejak dini, sejak anak-anak, dengan dituntun oleh orang yang sudah layak sebagai guru. Saya pribadi turut merasa senang karena guru-guru di Pasraman Giri Kusuma (Kota Bogor) telah berhasil memperoleh sumbangan buku Bhagavad-Gita untuk para siswa, dan sudah mulai membiasakan para siswa untuk menyempatkan membaca dan melantunkan sloka Bhagavad-Gita. Bahkan saya pernah lihat video rekaman di group whatsapp, pembacaan sloka Bhagavad-Gita juga sudah mulai diperkenalkan ke anak-anak PAUD kita. Semoga hal ini terus berlanjut. Demikian pula, di salah satu tempek kita, sudah mulai digiatkan belajar bersama membaca dan melantunkan sloka Bhagavad-Gita. Mudah-mudahan tempek-tempek yang belum memulai, segera memulainya.

 

Kenapa harus dimulai sejak dini, sejak anak-anak? Karena harus sudah dilatih dari awal, dari sejak anak-anak, bagaimana cara yang benar untuk menghadapi kehidupan, menghadapi keberhasilan, menghadapi kegagalan, menghadapi naik turunnya kehidupan. Kehidupan itu pasti ada naik turunnya, termasuk kehidupannya anak-nak. Ibarat lautan, pasti ada gelombangnya. Hanya saja, apakah kita memilih menjadi batang kayu yang terombang-ambing oleh gelombang, atau memilih menjadi tugu mercusuar yang tegak kokoh tak terusik oleh hantaman gelombang, gelombang kehidupan.

 

Anak-anak juga sudah harus diajarkan menerima keberagaman, baik keberagaman vertikal maupun keberagaman horisontal. Anak-anak sudah harus diajarkan menghormati orang lain, menyayangi semua ciptaan Tuhan. Anak-anak, bahkan setiap orang, mungkin merespons dan memiliki kecepatan yang berbeda terhadap ajaran spiritual, sesuai dengan karmanya, namun hal itu jangan sampai membuat kita hilang semangat. Karena usaha di jalan dharma ini tidak pernah sia-sia. Sesedikit apapun kemajuan yang dibuat, tetap akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.

 

Di samping itu, membaca Bhagavad-Gita sejak dini secara teratur ibaratnya menyimpan sloka-sloka Bhagavad-Gita di otak kita secara rapi. Otak kita ibaratnya sebuah filing cabinet, lemari tempat menyimpan file-file dengan rapi, yang ada index nya. Filing yang rapi akan memudahkan kita untuk mencari file tertentu walaupun sudah tersimpan puluhan tahun. Demikian juga, kalau sloka-sloka Bhagavad-Gita itu kita baca dan lantunkan serta pahami secara rutin sejak kecil, maka sloka-sloka tersebut akan tersimpan rapi di otak kita. Dan, akan memudahkan kita di suatu saat nanti, kapanpun, meskipun setelah puluhan tahun, memudahkan kita untuk mengakses kembali sloka-sloka tersebut dari ingatan kita di saat kita menghadapi situasi tertentu, termasuk saat dijemput kematian.

 

4.2. Tidak semua orang tahu kapan usia berakhir

 

Ada pendapat dari sebagian umat, bahwa orang yang membaca kitab suci itu adalah mereka yang mau menarik diri dari kegiatan di dunia ini. Mereka yang mau wanaprasta. Tentu saja pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Bhagavad-Gita tidak menyuruh orang untuk berhenti bekerja dan kemudian hanya melakukan meditasi dan kontemplasi sepanjang hari. Bhagavad-Gita mengajarkan bahwa untuk mereka yang belum saatnya untuk menempuh jalan non-aksi, maka tempuhlah jalan Karma-Yoga (jalan bhakti) untuk pemurnian jiwa. Bekerjalah dengan giat, lakukan swadharma dengan baik. Namun dalam bekerja, hendaknya bekerja jangan hanya memperoleh kekayaan materi saja, bekerjalah agar di samping memperoleh kekayaan materi, di saat yang sama juga memperoleh pencerahan, memperoleh peningkatan spiritual, peningkatan kesucian jiwa, semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Itulah jalan Karma-Yoga.

 

Mulailah seawal mungkin. Terlebih-lebih kalau usia sudah mencapai setengah abad, menurut kitab Nitisastra, kita sudah harus mulai bersiap-siap untuk kehidupan wanaprasta.

 

Di Jyotisar di depan para tirtayatri, Prabhu Darmayasa mengatakan kalaupun kita berpendapat bahwa membaca kitab suci itu sebaiknya nanti-nanti saja setelah usia tua, setelah mendekati usia kematian, maka kita hanya akan menyia-nyiakan waktu. Karena kita tidak pernah tahu kapan usia kita berakhir. Karena tidak semua orang meninggal di usia tua, ada banyak orang meninggal di usia muda bahkan uisa sangat muda. Lebih lanjut Prabhuji mengatakan bahwa kalau saat ini kita belum memulai membaca kitab Bhagavad-Gita, berarti kita telah menyia-nyiakan waktu dan umur kita. Berapa tahun waktu yang telah kita sia-siakan? 20 tahun? 30 Tahun? 50 tahun? Atau 70 tahun kah? Mulailah saat ini. Karena kita tidak tahu, berapa lama lagi usia kita tersisa.

 

Tidak semua orang seperti Raja Parikesit yang dikasi tahu kapan beliau akan mati, sehingga beliau bisa mempersiapkan diri menunggu kematiannya, dengan memperdalam bhakti dan penyerahan diri sepenuhnya selama 7 hari di tepian sungai Ganga, termasuk memperoleh siraman rohani berupa Srimad-Bhagavatam langsung dari Rsi Śukadeva Gosvāmī, putra Maha Rsi Vyasadeva.

 

Untuk Bapak/Ibu semeton yang sudah membaca dan memahami Bhagavad-Gita, kemudian apa langkah berikutnya? Tentunya membaca dan memahami adalah langkah yang perlu dan wajib, tapi tidak cukup hanya sampai di sana. Karena isi/ajaran kitab suci harus diimplementasikan.

 

Demikian selingan bagian-2 ini saya akhiri di sini, bilamana ada hal-hal dalam selingan ini yang tidak tepat ataupun salah, saya mohn maaf yang sebesar-besarnya karena pemahaman saya yang masih terbatas.

 

Om pūrṇamadaḥ pūrṇamidaṁ

pūrṇātpūrṇamudacyate

pūrṇasya pūrṇamādāya

pūrṇamevāvaśiṣyaste

 

Om Shanti Shanti Shanti Om

 

Bogor, 14 Oktober 2018