MULAILAH MEMBACA KITAB SUCI UNTUK YANG BELUM MULAI: Bagian-3

Oleh: Wayan Gemuh Kertaraharja

 

Om Swastyastu,

 

Astungkare, bagian-3 ini merupakan bagian akhir dsri 3 tulisan pendek, akan memaparkan jawaban atas pertanyaan penutup bagian-2 sebelumnya yaitu apakah kitab suci itu cukup hanya diketahui saja isinya.  Tentunya membaca dan memahami adalah langkah yang perlu dan wajib, tapi tidak cukup hanya sampai di sana. Karena isi/ajaran kitab suci harus diimplementasikan.

 

  1. Ajaran Bhagavad-Gita Tidak Cukup Hanya Diketahui Tetapi Harus Dipraktekkan

 

Svami Ishvarananda, salah seorang acharya dari Chinmaya Mission mengatakan bahwa memahami ataupun mengetahuinya saja, belumlah cukup, karena tahap itu baru pada tahap memiliki informasi, belum sampai pada tahap memiliki pengetahuan. Tahap selanjutnya adalah tahap mengimplementasikan informasi itu ke dalam kehidupan sehari-hari, agar informasi itu menjadi pengetahuan.

 

Agar lebih mudah memahami maksud dari kalimat di atas, agar tidak bingung dengan istilah informasi dan pengetahuan, saya ubah pernyataan di atas dengan kalimat saya sendiri yaitu: agar pengetahuan kita menjadi lengkap dan sempurna, maka pengetahuan itu perlu dipraktekkan.

 

Seperti disebutkan dalam sloka 4.33 Bhagavad-Gita, bahwa sarvaṁ karmākhilaṁ pārtha jñāne parisamāpyate, yang artinya: wahai Arjuna, semua yadnya itu memuncak pada jnana. Yadnya adalah persembahan suci kepada Tuhan. Bhagavad-Gita mengajarkan, lakukanlah tugasmu (apapun yang kau lakukan) sebagai persembahan suci kepada Tuhan. Jadi semua yang kita lakukan itu akan menyempurnakan jnana kita, kalau perbuatan itu kita jadikan sebagai sebuah yadnya, persembahan suci kepada Tuhan. Inilah perbuatan yang menurut kitab suci patut untuk dilakukan. Sebaliknya, kalau praktek yang kita lakukan tidak sesuai dengan tuntunan dalam kitab suci, maka dia hanya akan menjadi sebuah aktivitas materi biasa, tanpa berakibat pada penyempurnaan jnana bagi pelakunya.

 

Sebagaimana disebutkan dalam sloka 16.24 Bhagavad-Gita:

 

tasmāc chāstraṁ pramāṇaṁ te

kāryākārya-vyavasthitau

jñātvā śāstra-vidhānoktaṁ

karma kartum ihārhasi

 

“Jadikanlah kitab suci sebagai panduan atau otoritas dalam menentukan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak patut dilakukan. Setelah memahami isi kitab suci, maka bertindaklah di dunia ini sesuai dengan ajarannya.”

 

Jadi jelas sekali bahwa Bhagavad-Gita bukan hanya dimaksudkan sebagai filosofi saja yang hanya cukup untuk dipahami, tetapi juga harus dipraktekkan, bahkan dijadikan panduan paling tinggi untuk menentukan apa yang harus dilakukan dan apa yang jangan dilakukan.

 

Svami Tejomayananada mengatakan bahwa yang dimaksud dengan implementasi praktis ajaran Bhagavad-Gita adalah mengasimilasikan ajaran-ajaran Bhagavad-Gita ke dalam diri kita sehingga dapat terpraktekkan secara otomatis, secara spontan dalam aktifitas kehidupan sehari-hari. Seperti halnya kita hendak minum segelas jus, tapi tiba-tiba ada orang mengatakan bahwa ada racun dalam jus itu, maka dengan seketika (spontan) kita membatalkan minum jus itu. Dalam contoh ini, pengetahuan kita mengenai bahayanya sebuah racun, dikatakan telah menyatu meresap dalam diri kita.

Demikian pula, yang dimaksudkan dengan implementasi praktis ajaran Bhagavad-Gita adalah menjadikan ajaran Bhagavad-Gita itu menyatu dengan diri kita, yang terlihat dari perilaku kita yang secara spontan menerapkan ajaran-ajaran tersebut, dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, antara pikiran, ucapan dan perilaku kita, semuanya sejalan, sama-sama mencerminkan ajaran Bhagavad-Gita.

 

  1. Pengetahuan Yang Tidak Dipraktekkan Dapat Menjadi Beban Yang Berat Dan Dapat Membingungkan Orang Lain

 

Ibaratnya kita mendaki gunung, pada umumnya kita membawa perbekalan secukupnya, berupa sebotol air minum dan sebungkus makanan kecil atau sedikit buah segar, kita taruh di dalam tas atau ransel, kita gendong di punggung. Pada saat memulai pendakian, fisik kita masih segar, masih kuat mendaki dengan membawa ransel yang berisi makanan.

 

Namun semakin jauh ke atas, fisik kita semakin lelah, ransel yang berisi bekal yang tadinya tidak terasa sebagai beban, kini mulai terasa berat. Lalu bagaimana cara kita agar ransel tersebut tidak menjadi beban berat pendakian kita? Apakah kita buang saja dengan segala makanan dan minuman yang ada di dalamnya? Tentunya sayang dan sia-sia kalau dibuang begitu saja.

 

Demikian juga, pengetahuan kita mengenai manfaat dari minuman dan makanan terhadap badan kita, tidak akan berdampak pada diri kita bila makanan dan minumannya masih terpisah dengan diri kita.

 

Satu-satunya cara adalah dengan meminum minuman yag ada dalam botol dan memakan makanan yang ada dalam bungkusan. Dengan demikian, minuman dan makanan tersebut meresap menyatu dengan tubuh kita, badan menjadi lebih segar karena memperoleh suplly makanan, dan beban yang ada di dalam ransel menjadi berkurang. Double positive impact.

 

Prabhu Darmayasa mengilustrasikan, janganlah hendaknya kita hanya mengagung-agungkan akan manfaat dari madu sesuai pengetahuan yang kita peroleh dari yang kita baca, tapi kita juga harus mencicipi sendiri madunya, agar pengetahuan kita menjadi lengkap dan sempurna.

 

Disamping dapat menimbulkan beban, ilmu pengetahuan spiritual (jnana) yang tidak diimplementasikan, dapat membuat orang lain menjadi bingung.  Seperti stereotype yang dilekatkan kepada orang India, di mana orang India pada umumnya mengatakan “iya” dengan menggelengkan kepala, akan dapat membuat orang lain bingung apakah kata-katanya yang benar ataukah gelengan kepala yang benar. Karena bagi orang lain, kata-kata orang India tersebut bertentangan dengan gerakan gelengan kepalanya. Tidak sinkron.

 

Sama halnya, ketika kita mengendarai mobil keluar dari parkiran, di mana tukang parkir yang memandu kita mengatakan “kiri-kiri” tapi tangannya memberikan panduan arah ke kanan, akan membuat kita bingung apakah kita harus mengikuti kata-katanya ataukah gerakan tangannya. Atau jangan-jangan yang ada dalam pikiran tukang parkir itu adalah menyuruh kita untuk maju, bukan mundur ke kiri ataupun ke kanan.

 

Demikian juga dengan kita. Mari kita cek diri kita dengan jujur. Apakah kita sudah mengimplementasikan ajaran Bhagavad-Gita. Apakah antara pikiran, hati, kata-kata dan perlikau kita sudah semuanya sejalan dalam pengimplementasian ajaran Bhagavad-Gita.  Apakah dalam persembahyangan di pura, badan kita saja yang ada di pura, tetapi pikirannya mungkin ada di rumah atau di mall atau di tempat lainnya? Apakah badan kita saja yang ada di pura tempat suci, sementara kata-kata kita asyik ngerumpi menggunjingkan orang lain? Kalau hal itu terjadi, jangan-jangan Ida Betara Sesuhunan bingung, bagian mana dari diri kita yang Beliau harus ikuti? Apakah badan kita, ataukah pikiran kita ataukah hati kita? Maka dari itu, agar Ida Betara tidak bingung, tatkala kita berada di pura di tempat suci dalam rangka sembahyang, maka satukan badan, pikiran, hati dan kata-kata kita pada hal-hal yang suci.

 

Demikian juga, untuk mengetahui apakah kita sudah mengimplementasikan ajaran Bhagavad-Gita, bias kita cek diri kita dengan jujur. Salah satu contohnya adalah reaksi spontan apa yang biasanya kita berikan tatkala kita melihat orang lain sukses, melihat orang lain bahagaia, melihat orang lain menderita, melihat orang lain dalam duka?

 

  1. Apa Manfaat Kita Mengimplementasikan Ajaran Bhagavad-Gita?

 

Seabagaimana yang telah saya kemukakan di awal, bahwa Bhagavad-Gita mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi hidup dengan benar, untuk memperoleh kebahagaiaan sejati dan mencapai tujuan hidup yaitu atmano moksarthan jagat hitaya ca iti dharma. Cara yang diajarkan Bhagavad-Gita untuk jaman Kali Yuga ini adalah melalui cara bhakti (Karma Yoga), yaitu dengan selalu mengingat Tuhan, dengan selalu mempersembahkan secara tulus ikhlas kepada Tuhan (sebagai yadnya) semua aksi yang kita lakukan.

 

Bagaimana mungkin dengan mempraktekkan ajaran Bhagavad-Gita secara terus menerus dapat membawa kita ke tujuan hidup yaitu kesucian jiwa yang sama sucinya dengan Sang Atman sehingga kita bisa mencapai atmano moksartham?  Dalam sloka 9.22 Bhagavad-Gita disebutkan:

 

ananyāś cintayanto māṁ

ye janāḥ paryupāsate

teṣāṁ nityābhiyuktānāṁ

yoga-kṣemaṁ vahāmy aham

 

“Orang-orang yang memuja-Ku dengan selalu memusatkan pikirannya hanya satu kepada-Ku, yang kesadarannya senantiasa lelap di dalam cinta kasih bhakti kepada-Ku, kepada mereka Aku bawakan segala yang dibutuhkannya dan melindungi segala yang mereka miliki.”

 

Kalau kita secara terus menerus (tiada saat tanpa) mengingat kepada Tuhan, bhakti kepada Tuhan, semua perbuatan kita lakukan sebagai persembahan suci kepada Tuhan, sebagai yadnya, maka Beliau akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

 

Keinginan itu bisa tak berujung, dan tidak akan membawa kita kepada sreya atau kebahagiaan sejati, tetapi hanya akan membawa kita kepada preya atau kebahagiaan sementara. Yang Tuhan akan berikan adalah apa yang kita butuhkan. Butuhkan untuk apa? Butuhkan untuk meneruskan perjalanan meningkatkan spiritual kita, meningkatkan kesucian jiwa kita, untuk memperoleh sreya.

 

Sedangkan yang akan dijaga oleh Tuhan adalah apa yang sudah kita miliki yang membuat kita bisa meningkatkan spiritualitas kita, meningkatkan kesucian jiwa kita. Kita sebut saja semua ini sebagai aset spiritual atau kekayaan spiritual. Aset spiritual ini bisa bermacam-macam jenisnya. Ada orang yang giat bekerja mengumpulkan materi, tapi cara dia memperoleh materi dan menggunakan materi itu sesuai dengan prinsip Karma-Yoga, yang dapat menjernihkan jiwanya (purify their mind and soul), bukan yang mengotori jiwanya, maka aset spiritual ini akan dijaga oleh Tuhan, bahkan astungkara akan ditambah agar orang ini semakin maju dalam spiritual, atau ditambah dengan asset spiritual lainnya yang dia butuhkan untuk naik ke jenjang spiritualitas berikutnya, dalam kehidupan sekarang ataupun di kehidupan berikutnya, sesuai dengan karmanya.

 

Orang lain mungkin memiliki aset spiritual berupa kecerdasan, berupa keksuasaan atau otoritas, berupa kebijaksanaan, dan lain-lainnya.

 

  1. Penutup

 

Bila kita harus rangkum pembahasan dari seluruh 3 bagian selingan ini, apa yang bisa kita pegang sebagai suatu keyakinan (sradha) untuk kita kejar dan buktikan sendiri sebagaimana banyak orang lain dari dulu dan sekarang termasuk para orang suci sudah buktikan, adalah sloka penutup dari Bhagavad-Gita, yaitu sloka ke-700, atau sloka 78 bab 18, yang merupakan kesimpulan dari Sanjaya:

 

yatra yogeśvaraḥ kṛṣṇo

yatra pārtho dhanur-dharaḥ

tatra śrīr vijayo bhūtir

dhruvā nītir matir mama

 

“Inilah pendapat hamba, di manapun ada Sri Krishna penguasa ajaran spiritual dan dimana pun ada Arjuna sang pemanah utama, maka di sana pasti ada kemakmuran, kejayaan, kesejahteraan, dan moralitas yang tinggi .”

 

Dalam sloka ini Arjuna sebagai pemanah yang fokus hanya pada sasaran, menggambarkan manusia yang fokus pada tujuan hidup sesuai kitab suci. Saat Arjuna disuruh membidik burung di dahan oleh guru Drona, maka karena fokusnya, Arjuna hanya melihat mata burung, yaitu titik sasaran. Yang lain-lain yang di luar sasaran, diabaikan atau tepatnya tak terlihat.

 

Demikian juga, orang yang fokus pada tujuan hidup, yaitu mensucikan jiwa untuk mencapai moksartham, akan selalu ingat pada Tuhan setiap saat termasuk dalam setiap aktifitas yang dia kerjakan. Semua yang dia lakukan akan dijadikannya sebagai yadnya. Orang yang fokus dengan tujuan hidup, tidak akan membiarkan hal-hal lainnya yang datang dan pergi dalam hidup ini (suka dan duka dalam hidup ini) menggangu fokusnya. Bila kita selalu fokus, dan selalu bhakti kepada Tuhan, maka di sana berarti ada Tuhan, kedua kombinasi itu pasti akan menghasilkan kemakmuran, kesejahteraan, moralitas dan kejayaan.

 

Fokus dalam skala yang lebih kecil juga berlaku pada saat tirtayatra (bukan darmawisata maupun wisata) minggu lalu. Kalau kita tidak mengabaikan hal-hal yang tertangkap mata fisik ini, yang tertangkap telinga duniawi ini, ataupun yang tertangkap indera-indera duniawi lainnya ini, serta kalau kita menutup mata bathin kita, maka fokus untuk merasakan vibrasi positif dari energi suci akan tidak tercapai. Karena yang dijumpai oleh indera-indera duniawi itu di perjalanan menuju dan di tempat tujuan tirtayatra, kadangkala bukanlah tergolong hal-hal yang memanjakan indera duniawi. Sebaliknya, jika kita dalam kondisi rendah hati, kita akan selalu dapat memperoleh pelajaran dari alam dalam kondisi apapun, yang dapat membuat kita menjadi lebih bijak. Di samping itu, melakukan penilaian terhadap perjalanan berdasarkan penangkapan indera duniawi, akan menghalangi kita untuk mampu menerima anugrah dari energi suci di tempat suci. 

 

Demikian apa yang saya dapat sampaikan sebagai oleh-oleh, terutama untuk semeton yang sudah memesan oleh-oleh cerita sejak dari awal. Dengan mengutip sloka penutup dari Bhagavad-Gita di atas, saya akhiri pula selingan ini, semoga ada manfaatnya. Bilamana ada hal-hal yang keliru ataupun kurang tepat dalam apa yang saya sampaikan tadi, semoga Tuhan memberikan pengampunan.

 

Saya tutup dengan paramasanthi.

 

Om Santih Santih Santih Om

 

Bogor – 15 Oktober 2018