PEMIMPIN SAKTI DAN BHAKTI

Oleh: Ketut Adiana
Bintaro, 2 Nopember 2018

Kalau kita memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan maka hampir semua cabang ilmu berkembang mengikuti jamannya. Tidak ketinggalan ilmu kepemimpinan yang sangat dibutuhkan dari masa kemasa. Sebuah organisasi tidak akan berjalan bagus sebagaimana mestinya tanpa dipimpin oleh seseorang yang memahami ilmu bahkan seni kepemimpinan. Sebuah negara akan kacau kalau tidak dipimpin oleh orang-orang yang cakap dalam menerapkan ilmu kepemimpinan sesuai dengan keadaan negara saat mereka memimpin. Saat ini seorang pemimpin juga harus mampu memberi teladan yang baik kepada orang-orang yang dipimpinnya.Teladan disiplin, pengendalian diri, fokus menangani pekerjaan dengan tidak lupa selalu berdoa agar organisasi atau negara yang dipimpinnya mencapai tujuannya sesuai dengan yang dicita-citakan.

Sadashiwa memiliki kesaktian Cadu Sakti yang terdiri dari Wibhu Sakti, Prabhu Sakti, Jnana Sakti dan Kriya Sakti. Wibhu Sakti adalah kemampuan Sadashiwa untuk menyusupi segala hal namun beliau sendiri tidak disusupi. Memiliki energi ibarat api dalam kayu atau minyak dalam santan. Beginilah harusnya seorang pemimpin, menyusup ditengah-tengah orang yang dipimpinnya, menyusup ditengah-tengah rakyatnya. Pemimpin yang turun kebawah, bukan yang hanya duduk dibelakang meja. Bukan yang hanya menerima laporan apalagi laporan yang Asal Bapak Senang. Pemimpin yang mampu blusukan, pemimpin yang dapat diterima oleh semua pemangku kepentingan atau Stake Holdernya. Prabhu Sakti adalah kemampuan untuk mengendalikan tapi tidak dikendalikan. Kemampuan untuk menciptakan, memelihara dan mengembalikan (menghilangkan/menghapus) sesuatu yang tidak diperlukan lagi. Lebih dari Managerial skill seorang pemimpin harus punya Leadership yang tinggi. Mampu mengendalikan, mengambil keputusan yang cepat dan tepat sesuai dengan situasi yang dihadapi. Jnana Sakti adalah maha tahu. Punya kemampuan melihat  jauh (dura darshana), mendengar jauh (dura srawana) dan mengetahui jauh (dura jnana). Inilah pemimpin yang mampu memprediksi kondisi dan situasi yang akan terjadi, tentu berbasis analisa data. Lebih jauh disebut  pemimpin yang visioner. Kriya Sakti adalah maha karya, dapat melaksanakan apa saja. Pemimpin yang kerja keras dalam memajukan organisasinya, dalam memajukan bangsanya. Itulah gambaran pemimpin  Sakti yang memiliki Kompetensi yang diperlukan sesuai jabatannya.

Lalu, kenapa seorang pemimpin perlu disumpah sebelum melaksanakan tugasnya sesuai jabatannya ? Padahal kompetensi atau “ kesaktiannya “ sudah cukup ? Tidak lain adalah untuk mengingatkan agar pada saat memegang jabatannya, pada saat menjalankan tugasnya selalu berada dijalan Bhakti.

Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selalu mengingat beliau dalam melaksanakan tugasnya. Tidak melakukan hal-hal tercela karena ia sadar bahwa semua perbuatannya diketahui olehNya.

Bhakti kepada negaranya bahwa apa yang dilakukannya adalah demi negaranya, tidak mendahulukan kepentingan golongannya apalagi pribadinya. Menjalankan tugas-tugas yang dibebankan organisasinya dengan penuh rasa tanggungjawab.

Dalam kesehariannya selalu mengutamakan sifat-sifat bhakti seperti memuliakan kedamaian , menjauhi kekerasan, tidak menyakiti orang lain. Mampu menekan ego pribadinya, selalu memaafkan, cinta kasih terhadap sesama, mau berbagi, mau mendengarkan dan mau berkorban. Yang penting lagi adalah mempunyai sifat melayani. Sifat melayani ini penting, karena kalau seorang pemimpin minta dilayani terus maka hal ini akan mengarah kepada tindakan sewenang-wenang.

Mari kita renungkan kembali kisah bhaktinya Hanoman kepada junjungannya Rama. Setelah Dewi Sita bisa direbut kembali dari tangan Rahwana maka diadakanlah sejenis syukuran di balai pertemuan kerajaan. Para Raja, Punggawa, para Menteri diundang menghadiri acara tersebut. Tidak lupa dilakukan pembagian hadiah bagi hadirin yang membantu keberhasilan merebut kembali Dewi Sita. Para Raja, Punggawa, Menteri menerima hadiah berupa emas, perhiasan dan sebagainya. Demikian juga Hanoman sudah barang tentu harus diberi hadiah karena jasanya yang besar dalam pembebasan Dewi Sita.

Namun Hanoman menolak hadiah yang diberikan. Semua orang menjadi bingung, hadiah apa gerangan yang diminta Hanoman. Sampai akhirnya Dewi Sita melepas kalung mutiara yang dipakainya dan diberikan kepada Hanoman sebagai hadiah. Dan apa yang terjadi ? Hanoman malah menggigit kalung tersebut hingga butir-butir mutiaranya pecah. Dan pada saat itu hampir semua hadirin marah kepada Hanoman, dan mau “ ber- tindak ” terhadap Hanoman. Disaat itulah Hanoman merobek dan membelah dadanya. Apa yang terlihat ?Ternyata dalam dada Hanoman terlihat gambar Rama junjungannya. Dan Hanoman berkata : “ Aku tidak perlu hadiah apapun, kepuasanku adalah apabila aku dapat melayani Rama “. Demikianlah arti sebuah pelayanan (seva) yang ditunjukkan Hanoman. Untuk memberikan penghargaan kepada Hanoman saat ini umbul-umbul/lelontek diberi gambar Hanoman.

Demikianlah kita memerlukan pemimpin yang melayani, bukan yang dilayani. Kita memerlukan pemimpin yang bukan hanya Sakti tapi juga pemimpin yang Bhakti. Pemimpin Sakti dan Bhakti. Astungkara.