SANG MENTIMUN

SANG MENTIMUN – Dharma Wacana Puja Wali Pura Giri Kusuma Bogor

Purnama Kapat, 24 September 2018

 


Wayan Gemuh K.

 

Para pinandita lanang istri yang saya sucikan,
Para sesepuh umat yang saya muliakan,
Para pengurus organisasi keumatan yang saya hormati,
Umat sedharma yang berbahagia.

 

Om Swastyastu,

Sambil Bapak/Ibu semeton sami menerima waranugraha dari Hyang Widhi Wasa serta dari Ida Betara Sesuhunan berupa tirta wangsuhpada, saya akan mengisi kesempatan ini dengan dharmawacana, sesuai yang ditugaskan oleh panitia pujawali. Apa yang saya sampaikan nanti adalah berdasarkan apa yang saya pahami, sehingga bilamana nanti ada hal-hal yang tidak tepat ataupun keliru, dengan rendah hati saya mohon maaf.

Topik yang saya angkat kali ini merupakan topik yang ringan saja dan saya yakin semeton sami sudah sering mendengarnya, namun mudah-mudahan tidak bosan untuk mendengarkannya sekali lagi. Marilah kita bersama-sama jadikan hal yang saya sampaikan nanti sebagai pengingat untuk kita semua. Dengan sering diingatkan, mudah-mudahan kita semua menjadi semakin mantap.

Sebelum memulai, ijinkan saya membuka dengan doa pendek:

Om saha nāvavatu
Saha nau bhunaktu
Saha vīryam karavāvahai
Tejavis nāvadītamastu
Mā vidvidṣāvahai

 

Bapak Ibu semeton semua, kalau kita cermati, alam sekitar kita ini, alam raya ini, adalah sumber ilmu pengetahuan yang melimpah. Sudah banyak rahasia alam yang terungkap, berupa penemuan-penemuan di bidang ilmu pengetahuan, yang mana penemuan-penemuan tersebut diawali oleh keingintahuan para ilmuwan mengenai penyebab di balik peristiwa di alam ini. Sebagai contoh, Sir Isac Newton saat beliau duduk di bawah apel dan melihat ada buah apel yang jatuh dari pohonnya, kecerdasan beliau terpicu untuk meneliti kenapa buah apel jatuh ke bawah. Dari penelitiannya yang panjang, kemudian beliau menemukan suatu hukum alam yang disebut dengan hukum gravitasi.

Demikian juga di bidang spiritual, alam ini bisa kita jadikan guru untuk kita tauladani. Dari hal itu, dalam kesempatan ini saya akan mengupas singkat mengenai buah mentimun, mengapa buah mentimum dijadikan ilustrasi dalam mendalami spiritual, bahkan disebut-sebut dalam sebuah mantram yang terkenal dari kitab suci Rig Veda.

Ibu/Bapak semeton semua, sebagaimana kita ketahui, pada umumnya pohon-pohon itu tumbuh tinggi, dengan tinggi bervariasi dari sekitar 1 meter sampai dengan mungkin 10 meter atau lebih, dengan batang pohon yang kuat untuk menopang daun dan buah-buahnya. Melalui tangkai buah, buah dari pohon-pohon tersebut terikat melekat menggelantung di pohonnya, tinggi di atas tanah. Ada yang bisa dijangkau oleh manusia tanpa alat bantu, namun ada juga di mana kita harus menggunakan tangga atau sejenisnya, untuk menjangkaunya. Buah-buah yang sudah matang, sebagaimana kita ketahui, pada umumnya akan terlepas dengan sendirinya dari batang pohonnya, dan terjatuh ke tanah. Seperti buah apel yang sudah matang jatuh menimpa Sir Isac Newton.

Namun tidak demikian halnya dengan pohon mentimun, batang pohon mentimum tergolong kecil dan lemah, merambat di tanah, bukan menjulang tinggi, kecuali ada yang menopangnya. Dengan demikian, buah-buah mentimun pun bukan menggelantung tinggi di atas tanah, tetapi lesehan di tanah. Akibatnya, buah mentimum yang sudah mencapai usia matang, akan tetap terikat dengan batang pohonnya, tidak pernah lepas, kecuali dipetik oleh petani. Kalau tidak ada orang yang memetiknya untuk melepaskan ikatannya dengan pohonnya, maka buah mentimum akan tetap menempel melekat terikat dengan pohonnya, sampai buah mentimum itu membusuk.

Demikian halnya dengan jiwa kita. Ibaratnya buah-buah tersebut, jiwa-jiwa yang belum matang, yang belum tercerahkan, akan terikat kuat melekat dengan keduniawian. Sebaliknya, jiwa-jiwa yang sudah matang, yang sudah tercerahkan, akan terlepas dari ikatan duniawi, mencapai keadaan bebas, tidak terikat lagi. Keadaan jiwa yang bebas ini, saaat ini di dunia ini, bukan setelah mati, inilah yang disebut dengan Jivanmukti. Atau disebut dengan mencapai moksa di dunia ini. Sang jiwa telah menyatu dengan sang atma, dimana kesucian sang atma yang merupakan Brahman itu sendiri, sudah terpancar penuh keluar tanpa dihambat oleh jiwa yang kotor.

Namun ada jiwa-jiwa yang seperti buah mentimun, yang tidak pernah bisa lepas dari keterikatan duniawi, yang menjadi budak dari nafsu duniawi, budak dari ego, sepanjang hidupnya, bahkan mungkin dalam berkali-kali kelahirannya. Nah, jiwa yang semacam ini perlu pertolongan orang lain untuk melepaskan dirinya dari ikatan ini. Ibaratnya buah mentimun perlu pertolongan petani untuk melepaskannya dari ikatan dengan pohon mentimun. Siapa yang bisa menolong orang yang terikat dengan duniawi ini agar menjadi bebas dari ikatan ini? Tiada lain adalah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Melepaskan diri dari ikatan duniawi bukan berarti menarik diri dari kegiatan ataupun aktivitas di dunia ini. Kita tidak dilarang untuk bekerja, bahkan sebaliknya diwajibkan untuk aktif berkerja dengan baik, tidak mengenal usia pensiun. Namun, lakukanlah semua perkerjaan itu sesuai ketentuan Karma Yoga.

Melepaskan diri dari ikatan duniawi itu begitu pentingnya, bahkan menjadi salah satu tujuan utama dalam agama Hindu, sehingga dalam Rig Veda ada sebuah mantram yang kita kenal dengan mantram Maha Mrityun Jaya, atau juga dikenal dengan mantram Trayambakam:

 

Om tryambakaḿ yajāmahe
sugandhiḿ puṣṭivardhanam
urvārukamiva bandhanān
mṛtyormukṣīya mā’mṛtāt

 

Mantram ini merupakan pemujaan (yajāmahe) kepada Tuhan (Siwa, Yang Bermata Tiga, tryambakaḿ) yang menyebarkan keharuman dan memelihara seluruh mahluk (sugandhiḿ puṣṭivardhanam), semoga jiwa yang terikat ini yang bagaikan mentimun (urvārukamiva) terikat (bandhanān) dengan pohonnya, semoga dilepaskan dari ikatan terhadap yang tidak kekal atau kematian (mṛtyor, yaitu badan fisik dan nafsu duniawi ini), bukan dilepaskan dari yang kekal (mṛtāt, yaitu diri kita yang sejati, sang atma).

Jadi, mantram ini adalah doa untuk memohon semoga kita tercerahkan, sadar dengan diri kita yang sejati, yaitu sang atman yang kekal. Dengan demikian, kita terbebas dari rasa takut, bahkan terbebas dari rasa takut yang paling besar.

Namun demikian, tentunya kondisi kebebasan dari ego ini, tidak dapat dicapai secara serta merta. Mungkin memerlukan banyak kelahiran, dan dengan usaha yang tiada henti untuk terus maju sedikit demi sedikit secara terus menerus, dimulai dari saat ini. Kebebasan itu tidak juga bisa dicapai hanya dengan berdoa saja, melainkan harus melalui perbuatan.

Keadaan jivanmukti atau moksa ini menjadi salah satu tujuan dari dua tujuan agama Hindu, menjadi salah satu dharma ataupun tugas suci orang Hindu, sebagaimana disebutkan dalam Rig Veda: atmano moksartham. Adapun tujuan utama yang satu lagi adalah: jagat hitaya, yaitu mencipatakan alam semesta yang sejahtera dan tentram serta damai. Atmano moksartham jagat hitaya ca iti dharma.

Berkairan dengan usaha penyucian jiwa melalui melepaskan ikatan, disebutkan dalam sloka 5.11 Bhagavad Gita:

kāyena manasā buddhyā
kevalair indriyair api
yoginaḥ karma kurvanti
sańgaḿ tyaktvātma-śuddhaye

Dengan menggunakan badan (kāyena), pikiran (manasā), kecerdasan (buddhyā) dan bahkan dengan indera-indera pun (indriyair api), para Yogi (yoginaḥ), orang-orang yang sudah tercerahkan, melaksanakan perbuatannya (karma kurvanti) melepaskan ikatan (sańgaḿ tyaktvā), hanya dimaksudkan untuk penyucian sang diri (ātma-śuddhaye).

 

Jadi hendaknya semua pikiran, perkataan maupun perbuatan kita, dengan menggunakan kecerdasan dan badan ini, semata-mata untuk penyucian diri, yaitu dengan melepaskan ikatan dari nafsu duniawi, atau ego. Jangan sebaliknya, jangan sampai ada perliaku kita yang justru mengotori sang diri.

Penyucuian diri dalam sloka ini yang disebut dengan atma-suddhaye, sejalan dengan kramaning sembah yang kita lakukan, bahkan saking pentingnya, ditaruh pada sembah pertama: Om atma tatwa-atma suddhamam svaha. Para rohaniawan kita, siapapun yang meng-kompose kramaning sembah tersebut, sangat amat memahami apa yang terpenting dalam agama Hindu yang harus dituju oleh umat Hindu, yaitu kesucian jiwa.

Mari kita mulai sedikit demi sedikit untuk melepaskan atau membebaskan diri dari hal-hal yang dapat mengotori diri, seperti ujaran kebencian dan permusuhan, sifat benci dan dendam, sifat irihati, fitnah, pamerih, sifat sombong dan sebagainya. Karena hal-hal tersebut disamping membebani jiwa, juga mengotori jiwa.

Mantram maha mrityun jaya ini bukanlah mantram untuk memohon agar fisik kita kekal. Kematian sudah pasti bagi yang lahir. Namun, kita dapat memohon agar usia kita panjang, tapi tetap saja suatu saat pasti akan mati juga. Dalam memohon usia panjang, yang mungkin kita tadi juga panjatkan kepada Tuhan, marilah kita gunakan usia panjang dan kesehatan badan yang dianughrahkan oleh Tuhan, kita gunakan untuk memuliakan jiwa kita, sehingga kita panjang umur, mulia dan bahagia. Mari kita gunakan untuk memperbanyak berbuat karma baik. Bukan sebaliknya, usia panjang yang menjadikan kita semakin terikat dengan ego.

Adapun tujuan kedua dari agama kita, tugas suci atau dharma kita yang lain adalah turut serta menciptakan kesejahteraan masyarakat (jagat hitaya), mencipatakan kedamaian di masyarakat, ikut berperan dalam menciptakan loka sangraha serta memelihara kelestarian alam. Menjadi sia-sia kita sering sembahyang kalau perilaku kita justru merusak alam, menimbulkan keresahan di masyarakat, ataupun ikut aktif dalam menyebarkan permusuhan dan ujaran kebencian.

Kita mulai dengan hal yang paling sederhana, dari hal-hal yang paling dekat dengan kita, dari orang-orang di sekitar kita, dengan membantu orang-orang di sekitar kita dengan tulus ikhlas. Contoh lain yaitu memastikan agar kegiatan Pujawali ini dan setiap kegiatan di Pura ini, tidak menimbulkan friksi dengan masyarakat sekitar Pura, dengan salah satu cara yaitu parkir di tempat yang telah ditentukan dan menjaga agar suara speaker tidak terlalu keras yang dapat mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.

Kewajiban untuk menjaga kesejahteraan masyarakat, negara, umat manusia, ditekankan oleh Bhagav Sri Krisna dalam sloka 3.20 Bhagavad Gita:

karmaṇaiva hi saṁsiddhim
āsthitā janakādayaḥ
loka-saṅgrahaṁ evāpi
sampaśyan kartum arhasi

Raja suci bernama Janaka (janakādayaḥ) dan yang lain-lain juga sudah mencapai (āsthitā) kesempurnaan (saṁsiddhim) hanya dengan melaksanakan tugas-tugas kewajiban suci / Karma Yoga (karmaṇaiva hi). Oleh karena itu (sampaśyan), demi kesejahteraan masyarakat pada umumnya (loka-saṅgrahaṁ), engkau hendaknya melakukan (kartum arhasi) tugas kewajiban tanpa keterikatan pada hasil.

Menciptakan kesejateraan jagat, adalah tugas ari setiap orang sesuai dengan kapasitasnya. Terlebih-lebih lagi bagi seorang peminpin, dalam berbagai jenjang. Tugas menciptakan loka sangraham ini menunjukkan kesadaran kira sebagai bagian dari alam ini, untuk mencintai semua yang ada di alam ini, menciptakan keharmonisan dengan semua ciptaan Tuhan. Dari hal itu, jelas sekali bahwa atmano moksartham dan jagat hitaya itu bukanlah dua hal yang terpisah. Melainkan terkait satu sama lainnya. Orang yang dalam usaha menjernihkan dan menyucikan jiwanya, pasti akan tergerak dengan ikhlas dan tulus untuk menciptakan loka-sangraham.

Demikian juga sebaliknya, orang yang mendedikasikan dirinya dengan tulus ikhlas untuk berbuat baik kepada semua ciptaan Tuhan, termasuk menjaga kesejahteraan masyarakat, pasti akan mencapai kejernihan jiwa.

Bapak/Ibu semeton sami, demikian apa yang dapat saya sampaikan dalam dharmawacana singkat dan ringan ini. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Semoga kita semua semakin mantap dalan tugas suci kita untuk mencapai kesucian jiwa dan menciptakan kesejahteraan jagat. Apabila ada hal-hal yang tidak berkenan, mohon kiranya dimaafkan.

Saya akhiri dengan parama shanti.

Om Shanti Shanti Shanti Om