Oleh: Ketut Adiana Bintaro, 2 Nopember 2018 Kalau kita memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan maka hampir semua cabang ilmu berkembang mengikuti jamannya. Tidak ketinggalan ilmu kepemimpinan yang sangat dibutuhkan dari masa kemasa. Sebuah organisasi tidak akan berjalan bagus sebagaimana mestinya tanpa dipimpin oleh seseorang yang memahami ilmu bahkan seni kepemimpinan. Sebuah negara akan kacau kalau tidak dipimpin oleh orang-orang yang cakap dalam menerapkan ilmu kepemimpinan sesuai dengan keadaan negara saat mereka memimpin. Saat ini seorang pemimpin juga harus mampu memberi teladan yang baik kepada orang-orang yang dipimpinnya.Teladan disiplin, pengendalian diri, fokus menangani pekerjaan dengan tidak lupa selalu berdoa agar organisasi atau negara yang dipimpinnya mencapai tujuannyaSelengkapnya. . .

Oleh: Wayan Gemuh Kertaraharja   Om Swastyastu,   Astungkare, bagian-3 ini merupakan bagian akhir dsri 3 tulisan pendek, akan memaparkan jawaban atas pertanyaan penutup bagian-2 sebelumnya yaitu apakah kitab suci itu cukup hanya diketahui saja isinya.  Tentunya membaca dan memahami adalah langkah yang perlu dan wajib, tapi tidak cukup hanya sampai di sana. Karena isi/ajaran kitab suci harus diimplementasikan.   Ajaran Bhagavad-Gita Tidak Cukup Hanya Diketahui Tetapi Harus Dipraktekkan   Svami Ishvarananda, salah seorang acharya dari Chinmaya Mission mengatakan bahwa memahami ataupun mengetahuinya saja, belumlah cukup, karena tahap itu baru pada tahap memiliki informasi, belum sampai pada tahap memiliki pengetahuan. Tahap selanjutnya adalah tahap mengimplementasikanSelengkapnya. . .

Oleh: Wayan Gemuh Kertaraharja   Om Swastyastu,   Di bagian pertamadari tulisan bersambung ini, setelah kita mengetahui bahwa Hindu memiliki banyak kitab suci, saya menutupnya dengan pertanyaan: “adakah kitab yang berisi intisari dari ajaran Veda untuk manusia di jaman Kali Yuga ini?”. Di bagian-2 ini, kita mulai selingannya dengan dari mana kita menutup selingan pertama. Karena 3 tulisan ini merupakan tulisan yang berkesinambungan.   Demikian pula hidup ini, suatu proses yang berkelanjutan. Lahir-hidup-mati-lahir-hidup-mati dan seterusnya. Yang kita bawa berkelanjutan dari kehidupan saat ini ke kehidupan berikutnya hanyalah kesucian jiwa. Yang lainnya kita tinggalkan. Kita memulai kehidupan berikutnya, dengan tingkat kesucian jiwa yang sama dengan tingkatSelengkapnya. . .

Oleh: Wayan Gemuh Kertaraharja   Om Swastyastu   Om saha nāvavatu Saha nau bhunaktu Saha vīryam karavāvahai Tejasvi nāvadhītamastu Mā vidviṣāvahai   Selingan berupa tulisan pendek saya kali ini berkaitan dengan suasana rahina Saraswati. Saya mengangkat topik kitab suci, sesuai dengan apa yang saya pahami, yang merupakan catatan saya yang telah saya lengkapi dengan pencerahan dari Prabhu Darmayasa pada saat melaksanakan tirtayatra bersama beliau. Saya mengucapkan terima kasih kepada beliau dan para acharya dari Chinmaya Mission, yang pendapat dan pencerahannya saya pakai dalam tulisan pendek ringan ini.   Selingan ini terdiri dari 3 selingan bersambung. Bagian pertama sekilas mengenai kitab suci, bagian kedua mengenai kitabSelengkapnya. . .

Oleh: Ketut Adiana Bogor, 1 Oktober 2018.   Gotong Royong adalah sebuah kata yang sudah biasa didengar oleh telinga kita. Dan kitapun sering melakukan kegiatan gotong royong itu. Belakangan kegiatan gotong royong makin jarang kita lihat, mungkin karena kepentingan individu makin menonjol. Namun semangat gotong royong itu semestinya harus terus dipupuk. Ngayah adalah kegiatan kerja gotong royong yang didasari dengan semangat  kesukarelaan dan keikhlasan (lascarya). Ngayah biasanya dilakukan oleh sekelompok orang, tua muda, laki perempuan tanpa batasan umur dan umumnya dilakukan untuk sebuah kegiatan di Banjar atau Pura. Ambil contoh untuk kegiatan persiapan Pujawali atau Piodalan atau Odalan di sebuah pura. Laki perempuan, tua mudaSelengkapnya. . .

Oleh: I Wayan Suastika, Bogor Tiidak ada seorangpun diantara kita yang dapat membantah bahwa kehidupan di dunia ini memang sangat dinamis.. Perubahan terjadi dengan sangat cepat. Dengan kemajuan teknologi (komunikasi), jarak bukan lagi merupakan halangan bagi siapapun di belahan bumi ini untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lain. Kegagalan sepertinya sudah menghadang di depan mata bila seseorang tidak mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Dengan rumus yang sama perikehidupan dalam beragama Hindu juga mengalami pergeseran atau penyesuaian terus menerus, suatu  “reaktualisasi diri”  dalam menyikapi perubahan yang telah, sedang dan akan terjadi. Pertanyaannya adalah, bagaimana umat Hindu menyikapi perubahan yang terjadi agar tetap bisa eksisSelengkapnya. . .

SANG MENTIMUN – Dharma Wacana Puja Wali Pura Giri Kusuma Bogor Purnama Kapat, 24 September 2018   Wayan Gemuh K.   Para pinandita lanang istri yang saya sucikan, Para sesepuh umat yang saya muliakan, Para pengurus organisasi keumatan yang saya hormati, Umat sedharma yang berbahagia.   Om Swastyastu, Sambil Bapak/Ibu semeton sami menerima waranugraha dari Hyang Widhi Wasa serta dari Ida Betara Sesuhunan berupa tirta wangsuhpada, saya akan mengisi kesempatan ini dengan dharmawacana, sesuai yang ditugaskan oleh panitia pujawali. Apa yang saya sampaikan nanti adalah berdasarkan apa yang saya pahami, sehingga bilamana nanti ada hal-hal yang tidak tepat ataupun keliru, dengan rendah hati saya mohonSelengkapnya. . .